Kegembiraan identik dengan kebersamaan. Kesedihan identik dengan ketersendirian.
Begitulah hukum sosial. Lebih tepat sih disebut "hukuman sosial". Hal tsb ternyata berlaku universal; ragam budaya, etnis, negara, sejak masa lampau-kini-dan akan datang.
Mencurahkan kesedihan pada momen-momen kebersamaan, siap-siaplah dianggap lebay. Meledakkan kegembiraan ketika sedang sendirian, maka cermin pun menganggap kita sinting.
Tapi itulah hukum(an) tak tertulis umat manusia sbg makhluk sosial.
Aku membatin; apakah ini memang rancangan Tuhan atau semata-mata mrpkan kegersangan peradaban yang sebagian besar membelakangi hak-hak spiritual ketika bersujud menghadap kiblat material sbg kewajiban ?
Aku melunis.... dmei mmeerdeakakn jiaw adn fiikran ku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar